Minggu, 04 November 2012

Kerajaan Majapahit

Sejarah Kerajaan masa Hindu-Budha di daerah propinsi Jawa Timur, Indonesia dapat dibagi menjadi 3 periode :
  • Masa pemerintahan raja-raja dari kerajaan Kediri sejak abad ke 10 M hingga tahun1222 M.
  • Masa pemerintahan raja-raja dari kerajaan Singosari sejak tahun1222 M hingga tahun1293 M.
  • Masa pemerintahan raja-raja dari kerajaan Majapahit sejak tahun1293 M hingga awal abad ke 6 M.
Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia merupakan raja pertama Majapahit yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Pada awalnya, pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit berada di daerah Tarik ( sebuah kecamatan di kota Mojokerto,Jawa Timur, sekarang). Karena di wilayah tersebut banyak dijumpai pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaan Raden Wijaya dinamakan Majapahit. Raden Wijaya memerintah dari tahun 1293 M hingga tahun 1309 M.

Tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Raja Kaligemet, yang merupakan putra dari Raden Wijaya dengan Parameswari. Pada saat itu, usia Kaligemet masih relatif muda. Ia kemudian bergelar Prabu Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Pada akhirnya, di tahun 1328 M, Jayanegara terbunuh oleh tabib pribadinya yang bernama Tanca. Roda kekuasaan kemudian diambil alih oleh Raja Patni, yaitu salah satu istri Raden Wijaya yang merupakan putri raja Kertanegara dari Singosari. Bersama patih nya yang bernama Gajah Mada, Ia berhasil menegakkan kembali wibawa Majapahit dengan menumpas pemberontakan yang banyak terjadi. Raja Patni kemudian mengundurkan diri sebagai Raja dan menjadi pendeta Budha. Pemerintahan Kerajaan lalu diserahkan kepada anaknya yang bernama Tribhuana Wijaya Tunggadewi. Dalam menjalankan pemerintahannya, peran sang patih, Gajah Mada sangat besar dalam membawa nama Majapahit tumbuh menjadi negara yang termashur, baik di kepulauan nusantara hingga luar negeri.

Pada tahun 1350 M, Tribhuana Wijaya Tunggadewi mengundurkan diri. Kekuasaan diserahkan kepada anaknya yakni, Prabu Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit kemudian mencapai masa keemasan hingga Mahapatih Gajah Mada meninggal tahun 1365 M. Terlebih ketika Prabu Hayam Wuruk meninggal di tahun 1389 M, negara Majapahit mengalami kegoncangan akibat konflik saudara yang saling berebut kekuasaan.

Pengganti Hayam Wuruk adalah putrinya bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Sementara itu, Wirabhumi, yaitu putra Hayam Wuruk dari selir menuntut juga tahta kerajaan. Untuk mengatasi konflik tersebut, Majapahit kemudian dibagi menjadi 2 bagian :
  • Wilayah Timur dikuasai oleh Wirabhumi.
  • Wilayah Barat diperintah Wikramawardhana bersama Kusumawardhani.
Namun ketegangan diantara keduanya masih berlanjut hingga terjadi Perang Saudara yang disebut "Perang Paregreg" (1403 M -1406 M). Wikramawardhana berhasil memenangkan perang itu dan kembali menyatukan wilayah Majapahit. Ia kemudian memerintah hingga tahun 1429 M.

Wikramawardhana kemudian digantikan oleh putrinya, Suhita, yang memerintah dari tahun 1429 M hingga tahun 1447 M. Suhita adalah anak kedua dari selir. Selir tersebut merupakan putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi Raja akan meredakan persengketaan. Ketika Suhita wafat, tampuk kekuasaan digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan putra Wikramawardhana. Pemerintahannya berlangsut singkat, hanya sampai tahun 1451 M.

Sepeninggal Kertawijaya, Bhre Pamotan kemudian menjadi Raja bergelar Sri Raja Sawardhana dan berkedudukan di Kahuripan. Masa pemerintahannya hanya sampai tahun 1453 M. Kemudian selama 3 tahun Majapahit mengalami 'Interregnum' yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan baik di pusat maupun daerah. Pada tahun 1456 M, Bhre Wengker tampil memegang pemerintahan. Ia adalah putra Raja Kertawijaya. Setahun kemudian Ia meninggal dan digantikan oleh Bhre Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawardhana. Namun pada tahun 1468 M, Kertabumi menyatakan dirinya sebagai penguasa Majapahit yang memerintah di Tumapel, sedangkan Singhawikramawardhana menyingkir ke Daha. Pemerintahan Singhawikramawardhana digantikan putranya, Rana Wiajaya yang memerintah dari tahun 1447 M hingga 1519 M. Di tahun 1478 M, ia mengadakan serangan terhadap Kertabumi dan berhasil mempersatukan kembali Kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah karena perang saudara. Rana Wijaya bergelar Grindrawardhana.

Kondisi Kerajaan Majapahit yang telah rapuh dari dalam dan diertai munculnya perkembangan baru ajaran Islam di pesisir utara pulau Jawa, pada akhirnya menyebabkan kekuasaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar